it never last longer than the moment we said or created it, but we certainly has thousands of wishes for those words could explain more or stay longer than they actually means..
Menamai Bintang, itulah pekerjaanku sekarang. ada yang sempurna, ada yang mungil, ada yang terlalu angkuh dengan sinarnya yang berbisa luar biasa. I called them with colours too. pink star, black star, purple and baby blue star.
menamai bintang, itulah pekerjaanku setiap malam. aku bisa saja menamai setiap butir air mataku pada saat yang sama, namun aku sudah jenuh melakukannya.
air mata selalu saja sama bentuk dan rasanya! bening, basah, dingin dan diam. I couldn't differentiate them because they all come from the same aching heart, my one and fragile Heart.
Menamai Bintang, itulah pekerjaanku setiap sakit ini datang. seperti bintang jatuh, sakit ini selalu jatuh pada titik yang sama, tak pernah meleset. tepat di tengah sebongkah hati merah basahku yang berdenyut namun tak lagi sanggup mengerang saat sakit ini menyerang. aku lebih suka menamai bintang, daripada menghitung berapa kali sakit ini datang.
Menamai Bintang, itulah pekerjaanku hingga entah kapan. seperti sebuah pelukan tempat bersandar sebentar setelah tak kunjung bisa menutup mata, seperti tak kunjung bisa kedua tanganku menggapai sebuah Bulan yang bulat hangat serta selalu jadi awal saat semua sakitku ini datang...
Menamai Bintang, itulah yang aku lakukan sekarang karena aku tak mungkin jadi Malaikat...
Rindu Tuhan Mungkin aku pencundang Tuhan… Pecundang yang tak mampu menatap kekalahan Kekalahan mencari sebuah rencana yang bersembunyi dibalik duka.. Aku telah terlalu letih setia menapaki jalan yang tak pernah kutahu Akan berakhir dimana… Aku letih mencarimu di wajah bengis penuh cibir dan caci maki Aku letih mengikuti misteri yang tiada terpecahkan… Jangankan bertanya… Untuk tahu apa yang harus ditanyakanpun aku tak mampu.. Karena Kau bisu…. Bisu dalam KeagunganMu.. Kini aku pecundang yang kalah perang.. Hanya punya setitik rindu… Rindu bersatu denganMu yang disebut Tuhan Aku ingin bersatu bukan untuk bahagia .. Disuatu tempat yang Kau sebut Surga.. Dinerakapun aku bersedia…. Bahkan di dunia yang tiada pernah dinamakanpun aku mau.. Asalkan Engkau memberi setitik pelepas dahaga.. Pelepas dahaga disaat semua jalan yang Kau Beri telah tertelan misteri.. Pelepas ragu disaat masa depan telah menjadi kelabu.. Wahai Engkau yang disebut Tuhan… Biarkan rinduku menjadi sebuah berontak Yang berujung di titik air mata Berujung di kabut yang menghitam.. Berujung di dunia tak bernama.. Berujung di sebuah galau yang tak pernah terjawab..
Kalau saja tidur bisa mereparasi luka, Kalau saja mandi bisa membasuh dosa, Kalau saja ada yang namanya Jaket Anti Lara, Kalau saja ada hujan bisa menghilangkan semua sisa sisa.. Kalau saja....
( Hasil karya disini bukan semata - mata karangan dari penulis , tapi hasil dari browsing di internet , semua ini semata - mata untuk menghargai ternyata ada banyak pencipta puisi / pujangga di negeri tercinta Indonesia sekali lagi terucap SALUT buat pengarangnya , jika ada yang tidak berkenan dapat menghubungi pemilik WEB ini melalui eMail )
|